Gunung Argopuro termasuk dalam jajaran pegunungan yang pada bagian baratnya memiliki banyak puncak. Beberapa puncaknya struktur geologi tua dan sebagian lebih muda. Gunung Argopuro berada di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Gunung Argopuro merupakan gunung yang mempunyai jalur pendakian terpanjang diantara gunung-gunung di Pulau Jawa. Kawasan hutan tropis yang masih asli merupakan ciri dari dalam kawasan hutannya dan banyak dihuni oleh beberapa jenis burung dan hewan yang masih liar.
Gunung Argopuro berada dalam pengawasan sub BKSDA di Jember. Gunung Argopuro, oleh sebagian pendaki diberi julukan 'Gunung Kasih Tak Sampai', karena jalurnya yang panjang dan melelahkan. Pemandangannya yang indah, alami dan mengesankan, bisa menghibur dan melupakan derita putus asa dalam percintaan.
Gunung Argopuro berada dalam pengawasan sub BKSDA di Jember. Gunung Argopuro, oleh sebagian pendaki diberi julukan 'Gunung Kasih Tak Sampai', karena jalurnya yang panjang dan melelahkan. Pemandangannya yang indah, alami dan mengesankan, bisa menghibur dan melupakan derita putus asa dalam percintaan.
Gunung ini masih jarang didaki, kecuali pada saat musim liburan sekolah atau musim kemarau. Gunung Argopuro merupakan gunung yang menarik, karena selain pemandangannya yang indah, juga memiliki peninggalan bersejarah dari jaman purbakala hingga pendudukan Jepang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan bangunan dan candi yang sudah rusak baik disekitar kawah maupun di lerengnya.
Untuk mendaki Gunung Argopuro terdapat dua jalur utama, yaitu [1] lewat Baderan, Besuki atau [2] lewat Desa Bremi, Probolinggo. Untuk mendaki gunung ini dianjurkan lewat Desa Bremi dan turun lewat Baderan, karena lebih cepat sampai puncak dan dapat menikmati pemandangan yang lebih indah.
Jalur Bremi
Untuk mencapai Desa Bremi [960 mdpl] sangat mudah karena bis umum yang menuju desa ini 2 [dua] kali sehari dari terminal bis Probolinggo lama, jam 06.00 pagi dan jam 12.00 siang atau dari Terminal Banyuangga, Probolinggo naik bis atau minibus menuju Pajarakan., karena disini ada minibus menuju Desa Bremi. Tetapi bila pergi berombongan, dari Terminal Banyuangga ada minibus yang dapat membawa kita langsung ke Bremi.
Sampai di Bremi, kita harus melapor pada petugas KSDA dan Polsek Krucil di Bremi untuk meminta ijin melakukan pendakian dan usahakan pendakian kita lakukan pada pagi hari.

Esok harinya kita berjalan menyusuri jalan berbatu, menuju Perkebunan "Air Dingin", mendekati gerbang Perkebunan berbelok kekanan menuju Danau Taman Hidup [1.900 mdpl]. Perjalanan melewati hutan alam produksi dan hutan pinus serta kita akan menjumpai banyak tanjakan yang mempunyai kemiringan yang tinggi. Perjalanan membutuhkan waktu 4 jam pendakian kita akan sampai di Taman Hidup. Danau Taman Hidup merupakan sebuah danau yang sangat indah, disekelilingnya terdapat lereng-lereng gunung yang mempunyai vegetasi yang rapat.
Setelah berjalan 7 jam melalui perkebunan damar dan hutan tropis dari Bremi, kita akan sampai di Aeng Kenek. Sesampai di Aeng Kenek, kita menempuh perjalanan 1 jam lagi, dan kita sampai di Aeng Poteh atau Cisentor, yang merupakan persimpangan jalan menuju puncak dan ke arah Baderan.
Di Aeng Poteh, terdapat air sungai yang mengalir jernih, yang berwarna keputih-putihan. karena itulah tempat ini dinamakan Aeng Poteh [Aeng = air, Poteh = Putih].
Setelah perjalanan sekitar 1 jam 45 menit menuju puncak, kita akan melewati Rawa Embik, dimana terdapat sungai yang merupakan tempat minum kambing gunung. Disepanjang perjalanan banyak tempat untuk mendirikan tenda, dan air tersedia cukup melimpah. Perlu 1 jam perjalanan lagi untuk mencapai Puncak Rengganis [2.920 mdpl].
Di Gunung Argopuro, puncak yang sering dikunjungi adalah Puncak Rengganis, sedangkan Puncak Argopuro [3.088 mdpl] jarang dikunjungi karena jalannya tertutup hutan lebat. Di Puncak Rengganis ini pernah ditemukan arca Dewi Rengganis, yang menurut cerita adalah Putri Raja Majapahit terakhir, Raden Brawijaya, yang melarikan diri dan menyepi di Gunung Argopuro. Di Puncak ini ditemukan petilasan candi yang telah runtuh.
Puncak Rengganis ini merupakan bekas kawah belerang. Menurut kepercayaan setempat di Puncak Rengganis ini terdapat pusat kerajaan lelembut [jin], sehingga dari waktu ke waktu ada para pengunjung yang menaruh sesajian di Puncak Rengganis ini.
Jalur Baderan
Untuk mencapai Desa Baderan, dari Surabaya kita menuju Probolinggo dengan bis. Kemudian diteruskan menuju Banyuwangi turun di Besuki. Dari Besuki diteruskan menuju Desa Baderan [725 mdpl], yang jaraknya 22 km dari Besuki, dengan menggunakan angkutan umum.
Sebelum mendaki kita harus melapor pada petugas KSDA dan polisi setempat untuk meminta ijin dan menyiapkan air disini, karena air hanya akan kita jumpai di Sumber Air [5 jam perjalanan dari Baderan].
Dari Baderan kita menuju Cemoro Panjang [2.141 mdpl] selama 7 jam perjalanan, melewati Sumber Air [1.710 mdpl]. Hutan yang dilalui adalah hutan pinus dan hutan alam. Dari Cemoro Panjang kita menuju Alun-Alun Kecil [2.040 mdpl], yang kurang lebih 1 jam 15 menit, dan dilanjutkan menuju Alun-Alun Besar atau yang lebih dikenal dengan Sikasur [2.500 mdpl] selama 2 jam 45 menit.
Sikasur berupa padang rumput yang luas, sangat bagus untuk dijadikan camp, karena terdapat sungai kecil yang mengalir jernih dihiasi tumbuhan Selada Air [penduduk setempat menyebutnya Arnong]. Di Sikasur ini juga terdapat bekas lapangan terbang yang dibuat oleh A.J.M Ledeboer pada tahun 1940-an. Lapangan terbang tersebut, konon digunakan untuk kegiatan pembudidayaan rusa yang didatangkan dari luar. Sisa-sisa populasi masih ada tetapi semakin berkurang.
Perjalanan 3 jam dari Sikasur kita sampai di Aeng Poteh atau persimpangan Cisentor, pertigaan Baderan-Puncak-Bremi. Turun dari Puncak Argopuro, kita dapat memilih turun lewat Bremi selama 11 jam atau kembali lewat Baderan selama 13 jam.
Catatan
Perjalanan ke Gunung Argopuro ini rata-rata membutuhkan waktu kurang lebih dari 20 jam untuk naik dan 11 jam untuk turun, dengan demikian kita harus mendirikan tenda di perjalanan.






